Perkembangan properti di Semarang dan sekitarnya belakangan ini memang luar biasa. Banyak apartment dan kompleks perumahan baru bermunculan. Saya pribadi sangat excited dengan perkembangan kota tercinta ini. Semoga kesejahteraan kota ini terus meningkat, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat.

Berbicara mengenai properti yang tidak terlihat, di masa penuh teknologi sekarang ini peran dunia maya (online) makin penting untuk mendukung usaha. Tidak hanya properti fisik saja, properti di dunia maya menjadi kebutuhan sekaligus investasi untuk usaha. Jenis dan skala usaha yang berbeda akan membutuhkan properti (tempat) usaha yang berbeda pula. Agar dapat memanfaatkan secara maksimal, mari kita simak 3 macam properti online berikut.

Social Media – Langkah Awal Merintis Usaha
Sebagai pengusaha pemula, seringkali social media seperti Facebook atau Instagram menjadi pilihan awal untuk memulai bisnis. Karena selain gratis, penggunaannya juga sangat mudah. Praktis hampir semua orang bisa menggunakannya. Dan layaknya memulai usaha, seringkali kita menawarkan produk kita kepada orang-orang terdekat seperti kerabat, teman, atau tetangga. Di social media, kita bisa melakukannya dengan cepat dan mudah. Semakin banyak kenalan kita di social media, berarti makin banyak orang yang bisa ditawarkan. Tapi berhati-hatilah dalam menjual di social media, jangan sampai kenalan kita menjadi terganggu dan justru membuat renggang hubungan. Salah-salah kita dianggap tidak tulus dan hanya ingin mencari keuntungan.

Untuk keperluan bisnis, social media sejatinya bukan hanya bagi pemula saja. Usaha yang sudah maju/berkembang juga perlu menggunakan social media. Hanya saja fokus dan cara penggunaannya lain. Social media bagi usaha maju/berkembang biasanya lebih sebagai media pemasaran dan public relation, bukan serta merta untuk berjualan. Maka strategi konten dan pengaturannya pun berbeda.

Dalam menggunakan social media, kita wajib memperhatikan syarat dan ketentuan yang diberikan (biasanya saat mendaftarkan akun). Karena perlu diingat bahwa bagaimanapun kita menggunakan fasilitas gratis yang bukan milik kita. Tidak ada jaminan bahwa akun ini selamanya dapat terus kita gunakan, terlebih jika sadar atau tidak sadar kita telah melanggar ketentuan yang diberikan penyedia. Salah satu contoh pelanggaran yang paling sering saya lihat adalah penggunaan Facebook profil untuk keperluan usaha. Hingga kini sepertinya Facebook belum terlalu tegas menindak hal tersebut. Tapi kita tidak pernah tahu bagaimana ke depannya.

Marketplace dan Forum Jual Beli Online: Memperkenalkan Usaha
Media ini juga sering digunakan untuk pengusaha pemula dan menengah. Beberapa marketplace dam forum jual beli online terkenal di Indonesia di antaranya Tokopedia, BukaLapak, Kaskus FJB, OLX, Elevenia, Lazada, dan banyak lagi. Sebagian marketplace seperti Tokopedia dan BukaLapak memberikan fasilitas gratis untuk kita dapat memasang dan menjual produk kita, namun ada tambahan fitur berbayar untuk kita dapat menampilkan listing produk di posisi premium. Sedangkan situs seperti Elevenia dan Lazada mengenakan komisi untuk setiap transaksi yang terjadi. Besaran komisinya bervariasi, umumnya antara 5%-20% tergantung jenis produknya.

Website (Toko/Company Profile Online): Properti Utama di Dunia Maya
Memiliki toko atau kantor sendiri menjadi kebutuhan jika kita berniat serius menjalankan suatu usaha. Tidak cukup hanya terus “titip jual” produk kita kepada orang lain. Di suatu titik kita pasti butuh toko/kios/kantor untuk menjalankan operasional dan representasi usaha kita. Ibarat hal tersebut, jika ingin serius dalam usaha kita juga mesti memiliki toko/kantor sendiri di dunia maya (baca: website). Tidak cukup hanya bergantung pada social media atau marketplace gratis milik orang lain.

Kedua dari sisi biaya dan effort. Membuat website memang tidak harus mahal. Biayanya pasti lebih murah daripada membuat bangunan fisik. Tapi kita juga mesti serius dalam membangun “toko/kantor maya” ini. Seserius kita merancang pembangunan toko atau kantor fisik kita. Sayangnya saya sering menjumpai rencana pembuatan website yang masih ala kadarnya. Karena biaya yang “murah”, mereka merasa nothing to lose dan tidak menyadari manfaat sebenarnya yang bisa diraih. Yang penting punya, begitu kira-kira anggapannya.

Seringkali orang berani berinvestasi dalam mengembangkan usahanya. Jika kita berhitung biaya sewa tempat, renovasi, biaya perawatan gedung, listrik, keamanan, perlengkapan, dan banyak lagi, biaya yang dikeluarkan tentu tidak sedikit. Bisa puluhan, ratusan juta, atau bahkan lebih. Di dunia maya, biaya investasi ini tentu lebih murah. Padahal seringkali manfaat yang didapatkan bisa jauh lebih besar. Toko/kantor di dunia maya praktis beroperasi 24 jam / 7 hari seminggu, tanpa harus ada salesman yang menunggui. Juga tidak terbatas pada lokasi tertentu, kita bisa dikunjungi dan menjual kepada siapapun bahkan hingga ke seluruh dunia, hanya dengan 1 toko/kantor online.

Mengenai skalabilitas atau kemungkinan pengembangan suatu website di masa depan, hal ini juga perlu dipahami. Pengembang website yang baik semestinya mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan pengembangan untuk di masa depan. Namun perubahan atau penambahan fitur ini juga akan terbatas hingga di suatu titik. Ibarat kita membangun sebuah rumah sederhana 3 kamar. Jika di masa depan kita ingin menambah 1 kamar lagi, mungkin masih bisa dilakukan jika ruangan mencukupi. Tapi jika permintaannya dijadikan rumah kos-kosan 2 lantai, wahh.. bisa gawat itu. Apalagi mau dibikin hotel, ya tentunya tidak mungkin dan harus bikin baru lagi. Skalabilitas dalam membangun website pun kira-kira seperti itu. Akan lebih baik jika sejak awal sudah direncanakan akan seperti apa pengembangan ini nantinya di masa depan.

Banyak orang tidak tahu, bahwa properti (website) di dunia maya juga sebenarnya memiliki nilai investasi layaknya di dunia nyata. Harga suatu properti di dunia nyata di antaranya tergantung dengan luas tanah/bangunan, kualitas bangunan, dan juga lokasi (ramai tidaknya daerah tersebut). Suatu website juga mirip seperti itu. Makin bagus kualitas suatu website dan ramai dikunjungi orang, maka website tersebut memiliki nilai yang tinggi. Meskipun belum populer di Indonesia, orang dapat melakukan jual beli website melalui suatu situs seperti Flippa.com. Dilaporkan website seperti insurance.com di tahun 2010 laku terjual senilai USD 35juta atau setara hampir setengah trilyun rupiah. Wow… fantastis sekali.

Jadi apakah anda sudah serius membangun properti di dunia online?